“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33) * Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".(QS Yusuf: 108)

Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2020

Muqaddimah Penulis Syarah Naadzam Qawaidul Fiqhiyyah -Syaikh Nashir As-Sa'dy.


سم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، نحمده، ونستعينه، و نعوذ بالله من شرور انفسنا و سيئات اعمالنا، من يهد الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، و اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له، و اشهد ان محمدا عبده ورسوله، صلى الله عليه و على آله وصحبه ، و سلم تسليما كثيرا

"Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang. Segala puji bagi Alloh. Kita memujiNya dan memohon pertolongan kepadaNya. Dan kami berlindung kepada Alloh dari keburukan jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barang siapa yang diberikan petunjuk oleh Alloh maka tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Alloh maka tidak ada yang sanggup memberikan hidayah kepadanya. Aku bersaksi bahwasannya tiada Ilah (sesembahan yang haq untuk disembah) melainkan Alloh saja yang tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat dan salam yang banyak tercurah kepada beliau dan kepada para sahabatnya.
Amma ba'du:

Saya menuliskan untuk diri saya pribadi dan saudara-saudaraku yaitu mandzumah(syair) yang mencakup pokok-pokok kaidah agama. Meski pun ringkas namun penuh makna bagi yang mau merenungkannya. Akan tetapi syair ini masih membutuhkan penjelasan untuk menerangkannya, menyingkap makna-maknanya dan pelajaran-pelajaran di dalamnya, serta mengungkap pemahaman yang ada dibaliknya maka saya menuliskan syarah (penjelasan) yang berharga ini untuk mempermudah memahaminya.
Saya memohon kepada Alloh agar kitab ini bisa memberikan manfaat bagi penulisnya dan pembacanya dan menjadikannya ikhlas untuk mengharap wajah Alloh yang mulia, sesungguhnya Dia Maha Pengasih dan Penyayang.

Syarah Mandzumah Qawaidul Fiqhiyah - Pujian dan Sanjungan Kepada Alloh -ta'ala-


Bait 1:
الحمد لله العلي الأرفق # و جامعِ الأشياء و المفرِّق
#1 Segala puji bagi Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Lembut (kepada hambaNya -pent),
Yang mengumpulkan segala sesuatu dan memisah-misahkannya"

* Adapun الحمد (alhamdu) maknanya adalah pujian kepada Alloh dengan sifat-sifat kesempurnaanNya, kesempurnaan nikmat-nikmatNya, keluasan kemurahanNya, dan keindahan hikmah-hikmahNya karena Dia memiliki kesempurnaan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan. Tidak ada dalam nama-namaNya suatu yang tercela, bahkan seluruh namaNya adalah husna (indah). Dan tidak ada dalam sifat-sifatnya suatu yang kurang dan tercela bahkan sifat-sifat itu adalah sifat-sifat yang sempurna dari segala sisi. Dan Allah ta'ala memiliki kebaikan dalam seluruh perbuatanNya, karena perbuatan-perbuatanNya berporos pada keadilan dan ihsan (kebaikan). Dan Dia terpuji karena hal ini, dan karena hal inilah menjadi sempurna pujian.
Dan lafadz "Alloh" adalah ma'luuh al ma'buud (yang disembah dan diibadahi), yang berhak untuk diibadahi. Diibadahi dengan seluruh jenis ibadah tidak disekutukan sesuatu pun denganNya karena kesempurnaan pujianNya.

Lafadz "Al 'Aliy" yang baginya ketinggian yang sempurna secara mutlak dari seluruh sisi. Ketinggian DzatNya, ketinggian kemampuanNya, dan ketinggian kekuasaanNya.
Lafadz "Al-Arfaq" yaitu Ar-Rafiiq (Maha Lembut) dalam segenap perbuatanNya. Maka seluruh perbuatanNya adalah kelembutan yang berada di puncak kemaslahatan dan kebijaksanaan.
Dan Alloh -ta'ala- telah memperlihatkan tanda-tanda kelembutanNya kepada para hambaNya yang dengannya mereka bisa menemukan bukti akan kesempurnaanNya, dan kesempurnaan kebijaksanaan dan kelembutanNya. Sebagaimana dalam penciptaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam hari, padahal Dia Maha Mampu untuk menciptakannya dengan sekejap mata. Demikian pula penciptaan manusia, hewan-hewan, tetumbuhan yang bermacam-macam jenisnya. Dia menciptakannya tahap demi tahap sampai menjadi lengkap dan sempurna, padahal Dia mampu untuk menciptakan semua itu sekejap mata. Akan tetapi Dia Maha Lembut dan Maha Bijaksana. Dan termasuk kebijaksanaan dan kelembutanNya adanya proses dalam hal ini dan tidaklah hal itu menafikkan kemampuan dan hikmahNya.

Sebagaimana juga Dia menetapkan adanya hidayah dan kesesatan, akan tetapi hikmahNya mengharuskan tetapnya mereka dalam kesesatan sebagai bentuk keadilan bukan kedzaliman, karena anugerah keimanan dan hidayah murni dari fadhilahNya. Apabila Dia tidak memberikannya kepada seseorang tidaklah terhitung sebagai kedzaliman. Terlebih lagi apabila kondisinya bukan orang yang siap menerima nikmat tersebut.

Seluruh sifat-sifatNya memiliki pengaruh dalam penciptaan dan pengaturanNya. Tidak saling menafikkan. Barang siapa memahami permasalahan pokok yang agung ini niscaya akan terurai darinya keruwetan-keruwetan dalam memahami asma Alloh dan sifat-sifatNya dan menempatkan setiap nama-nama Alloh sesuai kedudukannya yang semestinya.

Dan perkataanku: "Dia mengumpulkan segala sesuatu dan memisah-misahkan"

Alloh -ta'ala- yang mengumpulkan segala sesuatu dalam suatu keadaan dan memisah-misahkannya dalam keadaan yang lain. Sebagaimana Dia mengumpulkan makhluknya dalam keadaan Dia telah menciptakan dan memberikan rezekinya. Dan Dia membedakan di antara mereka dalam hal jenis dan fisik, tinggi dan pendek, hitam dan putih, rupawan dan jelek, dan sifat-sifat lainnya.
Semua ini berasal dari kesempurnaan kemampuanNya dan hikmahNya, dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing yang sesuai. Allohu a'lam.

Senin, 09 Maret 2020

Ketinggian Alloh di Atas Arsy-Nya

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal. 12-16.

Penulis -hafidzahulloh- berkata:
Dimana Alloh?

Alloh ta'ala berfirman:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy" (QS Ta-Ha:5)
Dan firmanNya:
ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

"lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy" (QS Al-A'raf: 54)

Penjelasan:
Penulis -hafidzahulloh ta'ala- bermaksud dengan memasukkan bab ini untuk menetapkan ketinggian Alloh -azza wa jalla- di atas makhlukNya dan keterpisahanNya dari mereka serta beristiwa' di atas ArsyNya. Makna istiwa' yaitu على (tinggi) dan ارتفع (naik), صعد واستقر (naik dan menetap). Ini adalah perkataan yang dinukil dari salaf dan dari ahli bahasa. Dan tidak sahih dalam istilah bahasa kecuali ini.

Tentang ketinggian Alloh telah ditetapkan dalam Al Qur'an dan As Sunnah, akal, fithrah dan ijma' salaf (pendahulunya) umat ini.

✔ Adapun dari Al Qur'an:
Pertama: Bahwasannya Alloh ada di langit. Alloh ta'ala berfirman:
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

"Sudah merasa amankah kamu, pada Dia yang di langit" (QS Al-Mulk: 16)

Kedua: Alloh menjelaskan tentang fauqiyah (di atas seluruh makhlukNya). Alloh ta'ala berfirman:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ

"Mereka takut kepada Tuhan yang (berkuasa) di atas mereka" (QS An-Nahl: 50)

Ketiga: Alloh menjelaskan tentang para malaikat yang naik padaNya. Alloh ta'ala berfirman:
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

"Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan" (QS Al-Ma'arij: 4)

Keempat: Al Qur'an turun dari sisiNya. Allah -ta'ala- berfirman:
تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

"(Al-Qur'an ini) diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang". (QS Fussilat: 2)

Kelima: (Nabi 'Isa -alaihis salam) Naik kepadaNya. Allah -ta'ala- berfirman:
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ

"Tetapi Allah telah mengangkat Isa ke hadirat-Nya". (QS An-Nisa': 158)

Keenam: Bersemayam di atas 'Arsy. Alloh -ta'ala- berfirman:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy".(QS Ta-Ha: 5)

Ketujuh: Naik kepadaNya. Alloh -ta'ala- berfirman:
ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

"Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik". (QS Fatir: 10)

Kedelapan: Lafadz Al-Aliyil A'la (Alloh Maha Tinggi). Alloh -ta'ala- berfirman:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi" (QS Al-A'la: 1)
Dan firmanNya:
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

"dan Dia Mahatinggi, Mahabesar".(QS Al-Baqarah: 255)

✔ Dari As-Sunnah
Ketinggian Alloh 'azza wa jalla telah ditetapkan dengan As-Sunnah dengan tiga bentuk (pendalilan):

PERTAMA: Dengan perkataan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Telah tetap dalam kitab Shahihain bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
ألَّا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أمِينُ مَنْ فِي السَماء
"Apakah kalian tidak beriman kepadaku padahal aku ini kepercayaan Dzat yang ada di langit" (HR Bukhari & Muslim)

Dan dalam kitab keduanya juga hadits Abu Hurairah bahwasannya rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، كَتَبَ فِي كِتَابِه، فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي "

"Tatkala Alloh menciptakan makhluk, Dia telah menuliskan dalam kitabNya yang berada di sisiNya di atas 'Arsy: Sesungguhnya rahmatKu mendahului kemarahanKu".

KEDUA: Dengan perbuatan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam sebagaimana yang di dalam shahih Bukhari dari hadits Ibnu Abbas dan yang selainnya dalam khutbah wada' dan beliau bersabda di akhir khutbahnya:
الا هل بلغت؟ اللهم فاشهد
"Apakah aku sudah menyampaikannya (kepada kalian)? Ya Alloh, saksikanlah" (HR Bukhari)

Dan beliau berisyarat dengan jari telunjuknya ke langit. Dan di kitab ini juga tatkala datang seorang Arab Baduwi meminta diturunkan hujan kepada mereka maka beliau mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa:
اللهمَّ اسْقِنَا
"Ya Alloh turunkanlah hujan kepada kami".

KETIGA: Dari taqrir (ketetapan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam) sebagaimana yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim dari hadits Mu'awiyyah bin Hakam as-Sulamy bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bertanya (untuk menguji -pent) kepada budak perempuan: Dimana Alloh? Budak itu menjawab: Di langit. Lalu beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Merdekakanlah dia, karena dia seorang mukminah".

✔ Dari Fithrah yang selamat: hal itu karena hati para hamba difithrahkan untuk menetapkan sifat ketinggian bagi Alloh dan menghadapkan (hati) kepadaNya saat berdo'a. Alloh ta'ala berfirman:
ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ

"(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah" (Ar-Rum: 30)

Dan dalam kitab Shahihain dari Abu Hurairah bahwa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
كل مولود يولد على الفطرة
"Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithah" (HR Bukhari & Muslim)

✔ Akal. Hal itu karena sifat al-'uluw (tinggi) adalah sifat yang sempurna secara akal sedangkan rendah adalah sifat yang kurang (sempurna). Berdasarkan kesepakatan akal bahwa kesempurnaan ditetapkan untuk Alloh.

✔ Ijma Salaf. Dan telah dinukilkan (tentang ijma' salaf -pent)lebih dari satu orang seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa para Salaf mereka ijma' menetapkan sifat 'uluw (tinggi) untuk Alloh.

Dari penjelasan ini maka menjadi jelas bahwa dakwahnya ahlul hulul wal ittihad (Alloh bersatu dengan makhlukNya) menyelisihi Al Qur'an, As Sunnah, Ijma', Akal dan Fithrah.

Note:
Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal. 12-16.

Rabu, 04 Maret 2020

Ittiba' Kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:

Makna Muhammad utusan Alloh yaitu bahwasannya tidak ada yang benar untuk diikuti kecuali Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Selain Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- jika diikuti dalam permasalahan yang tidak ada dalil padanya maka dia telah diikuti secara batil.
Alloh ta'ala berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin" (QS Al-A'raf: 3)

*************
PENJELASAN:
Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- adalah hamba Alloh dan utusanNya. Beliau adalah anak Abdul Mutholib bin Hasyim, dari bangsa Arab yang paling mulia nasabnya. Al Imam bin Abdul Wahhab Al Najdi berkata tentang ungkapan 'hamba Alloh dan utusanNya': "Beliau hamba maka jangan disembah, dan rasul maka jangan didustakan".

Perkataan penulis: "Tiada yang benar untuk diikuti kecuali Rasululloh" karena Alloh memerintahkan untuk mentaatinya dan mengikutinya. Alloh berfirman:

ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah" (QS Al-Hashr: 7)

Dan firmanNya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu" (QS Al-Ahzab: 21)

Syaikhul Islam berkata: "Siapa orang yang menyangka bahwa dia akan mendapat petunjuk selain dari petunjuk Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-maka baginya akan mendapatkan laknat Alloh, malaikat-malaikatNya dan manusia seluruhnya". Dan beliau berkata: "Setiap orang memiliki dua bapak dan dua hari kelahiran. Adapun bapak yang pertama adalah bapaknya secara jasmani suami ibunya. Ada pun bapaknya yang kedua adalah bapaknya secara ruhani yaitu Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam. Dan yang menunjukkan hal ini adalah ucapan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- :

إنما أنا لكم بمنزلة الوالد
"Sesungguhnya aku ini bagimu seperti seorang bapak" (HR Abu Dawud, Nasa'i, Ahmad, Ibnu Majah, Ad Darimi)

Ada pun dua hari kelahiran, maka yang pertama yaitu hari dia dilahirkan ibunya, sedangkan yang kedua disaat dia mengikuti Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Hal ini sebagaimana yang telah tetap dalam hadits Al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

كلكم تدخلون الجنة إلا من أبى، قالوا: ومن يأبى يا رسول الله؟ قال: ومن أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى

"Kalian semuanya akan masuk surga kecuali orang yang enggan". Para shahabat bertanya: Siapa orang yang enggan itu wahai Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-? Beliau menjawab: "Barang siapa mentaatiku dia masuk surga, dan barang siapa mendurhakaiku maka dia orang yang enggan" (HR Bukhari)

Ucapan penulis: "Dan selain Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- jika diikuti tanpa dalil maka dia telah mengikuti dengan kebatilan". Ini mencakup mengikuti ulama dalam permasalahan yang tidak ada dalilnya. Dan mengikuti para umara' dalam perkara yang tiada dalilnya. Serta mengikuti para hamba dalan perkara yang tidak ada dalilnya. Hal ini berdasarkan firman Alloh ta'ala:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. (QS An-Nisa': 59)

Penyertaan kata ulil amri tanpa pengulangan fi'il أطيعوا (taatilah) menunjukkan bahwa ketaatan kepada mereka tidaklah wajib kecuali dalam mentaati Alloh. Dan orang yang mengikuti mereka tanpa dalil maka sungguh ia telah bersikap melampaui batas terhadap mereka dan menjadikan mereka Thoghut-thoghut. Dan barang siapa mengikuti mereka dengan dalil maka dia tidak dianggap muqallid(hanya ikut-ikutan) sebab ittiba (mengikuti Rasul) hanyalah terealisasi dengan adanya dalil.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh-