“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33) * Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".(QS Yusuf: 108)

Cari Blog Ini

Sabtu, 28 Maret 2020

At-Tuhfah - Ayat-ayat Sifat antara Syubhat dan Bantahannya

SYUBHAT DAN BANTAHANNYA
Syubhat Pertama:
Jika ada orang yang berkata dari kalangan pengikut hulul (Alloh menyatu dengan makhlukNya): Apa pendapatmu mengenai firman Alloh azza wa jalla :
وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ

"Dan Dialah Allah (yang disembah), di langit maupun di bumi" (QS Al-An'am: 3)
وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌ ۚ

"Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi" (QS Az-Zukhruf: 84)

Jawaban:

Sesungguhnya makna kedua ayat tersebut bahwasannya Alloh adalah sesembahan bagi makhlukNya yang ada di langit dan sesembahan pula bagi makhluknya yang ada di bumi. Karena makna ilah adalah sesembahan (yang diibadahi). Sehingga maknanya adalah: Dialah yang diibadahi di langit dan diibadahi di bumi.

Syubhat Kedua:
Jika ada yang berkata:
Ketika engkau mengatakan bahwa Alloh ada di langit engkau telah menjadikan tempat bagi Alloh -azza wa jalla- padahal Alloh ta'ala tidaklah dilingkupi sesuatupun dari makhluk-makhlukNya.

Jawabnya: bahwa as-samaa' (langit) bermakna al-uluw (yang tinggi di atas), dan setiap yang di atasmu adalah langit bagimu. Maka makna ayat ini adalah: "Apakah engkau merasa aman dari Dia (Alloh) yang ada di atas?

Jawaban kedua: bahwa huruf jar berbeda-beda fungsinya, dan في di sini bermakna على (di atas) sehingga maknanya adalah: "Apakah engkau merasa aman dari Dia (Alloh) yang ada di atas langit?". Telah ada contoh semacam ini dalam Al Qur'an. Alloh ta'ala mengisahkan tentang Fir'aun bahwa dia berkata kepada tukang sihir:
وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ

"dan sungguh, akan aku salib kamu pada pangkal pohon kurma " (QS TaHa: 71)
Yaitu pada/di atas pangkal pohon kurma. Dan firman Alloh ta'ala:
فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا

"maka jelajahilah di segala penjurunya" (QS Al-Mulk: 15)
Maksudnya di atas jalan-jalannya.

Syubhat Ketiga:
Jika ada yang berkata: Apa tanggapanmu mengenai firman Alloh -ta'ala-:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ
"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada". (QS Al-Hadid: 4)
Dan firmanNya:

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ

" Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada." (QS Al-Mujadilah: 7)

Jawabnya:
Bahwasannya kebersamaan yang dimaksudkan di sini adalah kebersamaan secara ilmu, pengawasan, kekuasaan dan kemampuan bukan kebersamaan bersama dzatNya. Dan mayoritas para salaf menafsirkannya dengan ilmu, diantaranya Abdulloh bin mubarak. Dan hal ini ditunjukkan oleh konteks ayat yang Alloh -ta'ala- memulai ayat pertama dengan ilmu dan menutupnya dengan ilmu.

Kemudian Alloh ta'ala mengkhabarkan bahwa Dia tinggi di atas makhlukNya dan bersemayam di atas Arsy-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang mampu meliputiNya. Mustahil ada pertentangan di antara firman Alloh. Alloh ta'ala berfirman:

ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
"Sekiranya (Al-Qur'an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya".(QS An-Nisa': 82)

Akan tetapi argumentasi ahlul bid'ah mengenai ayat ini (ayat ma'iyyah -pent) terhadap ahlus sunnah dengan tujuan menetapkan kebatilan yang ada pada mereka yang bersumber dari pemahaman mereka yang rusak terhadap makna ayat yang benar. Alloh ta'ala berfirman:

ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ

"(Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)" (QS An-Nisa': 83)
Benarlah perkataan penyair:
وكم من عائب قولا صحيحا # وآفته من الفهم السقيم
"Banyak orang yang mencela perkataan yang benar, penyebabnya dari pemahaman yang rusak"

Note:
Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal. 16-19.

0 komentar:

Posting Komentar