“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33) * Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".(QS Yusuf: 108)

Cari Blog Ini

Sabtu, 28 Maret 2020

At-Tuhfah - Ayat-ayat Sifat antara Syubhat dan Bantahannya

SYUBHAT DAN BANTAHANNYA
Syubhat Pertama:
Jika ada orang yang berkata dari kalangan pengikut hulul (Alloh menyatu dengan makhlukNya): Apa pendapatmu mengenai firman Alloh azza wa jalla :
وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ

"Dan Dialah Allah (yang disembah), di langit maupun di bumi" (QS Al-An'am: 3)
وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَٰهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَٰهٌ ۚ

"Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi" (QS Az-Zukhruf: 84)

Jawaban:

Sesungguhnya makna kedua ayat tersebut bahwasannya Alloh adalah sesembahan bagi makhlukNya yang ada di langit dan sesembahan pula bagi makhluknya yang ada di bumi. Karena makna ilah adalah sesembahan (yang diibadahi). Sehingga maknanya adalah: Dialah yang diibadahi di langit dan diibadahi di bumi.

Syubhat Kedua:
Jika ada yang berkata:
Ketika engkau mengatakan bahwa Alloh ada di langit engkau telah menjadikan tempat bagi Alloh -azza wa jalla- padahal Alloh ta'ala tidaklah dilingkupi sesuatupun dari makhluk-makhlukNya.

Jawabnya: bahwa as-samaa' (langit) bermakna al-uluw (yang tinggi di atas), dan setiap yang di atasmu adalah langit bagimu. Maka makna ayat ini adalah: "Apakah engkau merasa aman dari Dia (Alloh) yang ada di atas?

Jawaban kedua: bahwa huruf jar berbeda-beda fungsinya, dan في di sini bermakna على (di atas) sehingga maknanya adalah: "Apakah engkau merasa aman dari Dia (Alloh) yang ada di atas langit?". Telah ada contoh semacam ini dalam Al Qur'an. Alloh ta'ala mengisahkan tentang Fir'aun bahwa dia berkata kepada tukang sihir:
وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ

"dan sungguh, akan aku salib kamu pada pangkal pohon kurma " (QS TaHa: 71)
Yaitu pada/di atas pangkal pohon kurma. Dan firman Alloh ta'ala:
فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا

"maka jelajahilah di segala penjurunya" (QS Al-Mulk: 15)
Maksudnya di atas jalan-jalannya.

Syubhat Ketiga:
Jika ada yang berkata: Apa tanggapanmu mengenai firman Alloh -ta'ala-:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ
"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada". (QS Al-Hadid: 4)
Dan firmanNya:

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ

" Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada." (QS Al-Mujadilah: 7)

Jawabnya:
Bahwasannya kebersamaan yang dimaksudkan di sini adalah kebersamaan secara ilmu, pengawasan, kekuasaan dan kemampuan bukan kebersamaan bersama dzatNya. Dan mayoritas para salaf menafsirkannya dengan ilmu, diantaranya Abdulloh bin mubarak. Dan hal ini ditunjukkan oleh konteks ayat yang Alloh -ta'ala- memulai ayat pertama dengan ilmu dan menutupnya dengan ilmu.

Kemudian Alloh ta'ala mengkhabarkan bahwa Dia tinggi di atas makhlukNya dan bersemayam di atas Arsy-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang mampu meliputiNya. Mustahil ada pertentangan di antara firman Alloh. Alloh ta'ala berfirman:

ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
"Sekiranya (Al-Qur'an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya".(QS An-Nisa': 82)

Akan tetapi argumentasi ahlul bid'ah mengenai ayat ini (ayat ma'iyyah -pent) terhadap ahlus sunnah dengan tujuan menetapkan kebatilan yang ada pada mereka yang bersumber dari pemahaman mereka yang rusak terhadap makna ayat yang benar. Alloh ta'ala berfirman:

ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ

"(Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)" (QS An-Nisa': 83)
Benarlah perkataan penyair:
وكم من عائب قولا صحيحا # وآفته من الفهم السقيم
"Banyak orang yang mencela perkataan yang benar, penyebabnya dari pemahaman yang rusak"

Note:
Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal. 16-19.

Rabu, 25 Maret 2020

Libur Kajian

BISMILLAH
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Diumumkan kepada seluruh peserta kajian, dalam rangka ikhtiar kita untuk mencegah penyebaran pandemi Virus Corona (Covid-19) maka untuk sementara waktu Kajian Rutin Rabu Malam Kamis di Masjid Al Ikhlas Ngagul DILIBURKAN mulai tanggal 25 Maret 2020 sampai batas waktu yang belum ditentukan.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Kajian akan diaktifkan kembali dengan melihat perkembangan kondisi serta arahan dari Pemerintah RI.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Demikian pengumuman ini kami sampaikan mohon dapat dimaklumi oleh semua pihak.

Semoga Allah memberi pertolonganNya kepada kita semua
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
TTD

Forum Kajian Sunnah Pati

Selasa, 24 Maret 2020

Kajian Tafsir Tematik Thoharoh



Oleh Ustadz Abu Yahya Sunardi hafidzahulloh
Tantang wudhu, mandi, dan tayamum
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (6)

Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak menger­jakan salat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sam­pai dengan siku, dan sapulah kepala kalian dan (basuh) kaki ka­lian sampai dengan kedua mata kaki; dan jika kalian junub, ma­ka mandilah; dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempu­an, lalu kalian tidak memperoleh air, maka bertayamumlah de­ngan tanah yang baik (bersih); sapulah muka kalian dan tangan kalian dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kalian, tetapi Dia hendak membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur. (Al-Maidah; 6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكارى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُباً إِلاَّ عابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضى أَوْ عَلى سَفَرٍ أَوْ جاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّساءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كانَ عَفُوًّا غَفُوراً (43)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati shalat, sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kalian dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu saja, hingga kalian mandi. Dan jika kalian sakit atau sedang dalam musafir atau seseorang di antara kalian datang dari tempat buang air atau kalian telah menyentuh perempuan, kemudian kalian tidak mendapat air, maka bertayamumlah kalian dengan tanah yang baik (suci); sapulah muka kalian dan tangan kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (An-Nisaa)

Tentang Haid

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (222)

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, "Haid itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Al-Baqoroh)

فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ (75) وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ (76) إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (77) فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (78) لَا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ (79) تَنزيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (80)

Maka aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. (Al-Waqiah)

Bersuci dari Najis
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) 

dan pakaianmu bersihkanlah, (Al-Muddassir)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90)
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. (Al-Maidah)

Wallohu a’lam

Rabu, 11 Maret 2020

Muqaddimah Penulis Syarah Naadzam Qawaidul Fiqhiyyah -Syaikh Nashir As-Sa'dy.


سم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله، نحمده، ونستعينه، و نعوذ بالله من شرور انفسنا و سيئات اعمالنا، من يهد الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، و اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له، و اشهد ان محمدا عبده ورسوله، صلى الله عليه و على آله وصحبه ، و سلم تسليما كثيرا

"Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang. Segala puji bagi Alloh. Kita memujiNya dan memohon pertolongan kepadaNya. Dan kami berlindung kepada Alloh dari keburukan jiwa kami dan kejelekan amalan-amalan kami. Barang siapa yang diberikan petunjuk oleh Alloh maka tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Alloh maka tidak ada yang sanggup memberikan hidayah kepadanya. Aku bersaksi bahwasannya tiada Ilah (sesembahan yang haq untuk disembah) melainkan Alloh saja yang tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Semoga shalawat dan salam yang banyak tercurah kepada beliau dan kepada para sahabatnya.
Amma ba'du:

Saya menuliskan untuk diri saya pribadi dan saudara-saudaraku yaitu mandzumah(syair) yang mencakup pokok-pokok kaidah agama. Meski pun ringkas namun penuh makna bagi yang mau merenungkannya. Akan tetapi syair ini masih membutuhkan penjelasan untuk menerangkannya, menyingkap makna-maknanya dan pelajaran-pelajaran di dalamnya, serta mengungkap pemahaman yang ada dibaliknya maka saya menuliskan syarah (penjelasan) yang berharga ini untuk mempermudah memahaminya.
Saya memohon kepada Alloh agar kitab ini bisa memberikan manfaat bagi penulisnya dan pembacanya dan menjadikannya ikhlas untuk mengharap wajah Alloh yang mulia, sesungguhnya Dia Maha Pengasih dan Penyayang.

Syarah Mandzumah Qawaidul Fiqhiyah - Pujian dan Sanjungan Kepada Alloh -ta'ala-


Bait 1:
الحمد لله العلي الأرفق # و جامعِ الأشياء و المفرِّق
#1 Segala puji bagi Alloh yang Maha Tinggi lagi Maha Lembut (kepada hambaNya -pent),
Yang mengumpulkan segala sesuatu dan memisah-misahkannya"

* Adapun الحمد (alhamdu) maknanya adalah pujian kepada Alloh dengan sifat-sifat kesempurnaanNya, kesempurnaan nikmat-nikmatNya, keluasan kemurahanNya, dan keindahan hikmah-hikmahNya karena Dia memiliki kesempurnaan nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan. Tidak ada dalam nama-namaNya suatu yang tercela, bahkan seluruh namaNya adalah husna (indah). Dan tidak ada dalam sifat-sifatnya suatu yang kurang dan tercela bahkan sifat-sifat itu adalah sifat-sifat yang sempurna dari segala sisi. Dan Allah ta'ala memiliki kebaikan dalam seluruh perbuatanNya, karena perbuatan-perbuatanNya berporos pada keadilan dan ihsan (kebaikan). Dan Dia terpuji karena hal ini, dan karena hal inilah menjadi sempurna pujian.
Dan lafadz "Alloh" adalah ma'luuh al ma'buud (yang disembah dan diibadahi), yang berhak untuk diibadahi. Diibadahi dengan seluruh jenis ibadah tidak disekutukan sesuatu pun denganNya karena kesempurnaan pujianNya.

Lafadz "Al 'Aliy" yang baginya ketinggian yang sempurna secara mutlak dari seluruh sisi. Ketinggian DzatNya, ketinggian kemampuanNya, dan ketinggian kekuasaanNya.
Lafadz "Al-Arfaq" yaitu Ar-Rafiiq (Maha Lembut) dalam segenap perbuatanNya. Maka seluruh perbuatanNya adalah kelembutan yang berada di puncak kemaslahatan dan kebijaksanaan.
Dan Alloh -ta'ala- telah memperlihatkan tanda-tanda kelembutanNya kepada para hambaNya yang dengannya mereka bisa menemukan bukti akan kesempurnaanNya, dan kesempurnaan kebijaksanaan dan kelembutanNya. Sebagaimana dalam penciptaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam hari, padahal Dia Maha Mampu untuk menciptakannya dengan sekejap mata. Demikian pula penciptaan manusia, hewan-hewan, tetumbuhan yang bermacam-macam jenisnya. Dia menciptakannya tahap demi tahap sampai menjadi lengkap dan sempurna, padahal Dia mampu untuk menciptakan semua itu sekejap mata. Akan tetapi Dia Maha Lembut dan Maha Bijaksana. Dan termasuk kebijaksanaan dan kelembutanNya adanya proses dalam hal ini dan tidaklah hal itu menafikkan kemampuan dan hikmahNya.

Sebagaimana juga Dia menetapkan adanya hidayah dan kesesatan, akan tetapi hikmahNya mengharuskan tetapnya mereka dalam kesesatan sebagai bentuk keadilan bukan kedzaliman, karena anugerah keimanan dan hidayah murni dari fadhilahNya. Apabila Dia tidak memberikannya kepada seseorang tidaklah terhitung sebagai kedzaliman. Terlebih lagi apabila kondisinya bukan orang yang siap menerima nikmat tersebut.

Seluruh sifat-sifatNya memiliki pengaruh dalam penciptaan dan pengaturanNya. Tidak saling menafikkan. Barang siapa memahami permasalahan pokok yang agung ini niscaya akan terurai darinya keruwetan-keruwetan dalam memahami asma Alloh dan sifat-sifatNya dan menempatkan setiap nama-nama Alloh sesuai kedudukannya yang semestinya.

Dan perkataanku: "Dia mengumpulkan segala sesuatu dan memisah-misahkan"

Alloh -ta'ala- yang mengumpulkan segala sesuatu dalam suatu keadaan dan memisah-misahkannya dalam keadaan yang lain. Sebagaimana Dia mengumpulkan makhluknya dalam keadaan Dia telah menciptakan dan memberikan rezekinya. Dan Dia membedakan di antara mereka dalam hal jenis dan fisik, tinggi dan pendek, hitam dan putih, rupawan dan jelek, dan sifat-sifat lainnya.
Semua ini berasal dari kesempurnaan kemampuanNya dan hikmahNya, dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing yang sesuai. Allohu a'lam.

Senin, 09 Maret 2020

Ketinggian Alloh di Atas Arsy-Nya

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal. 12-16.

Penulis -hafidzahulloh- berkata:
Dimana Alloh?

Alloh ta'ala berfirman:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy" (QS Ta-Ha:5)
Dan firmanNya:
ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ

"lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy" (QS Al-A'raf: 54)

Penjelasan:
Penulis -hafidzahulloh ta'ala- bermaksud dengan memasukkan bab ini untuk menetapkan ketinggian Alloh -azza wa jalla- di atas makhlukNya dan keterpisahanNya dari mereka serta beristiwa' di atas ArsyNya. Makna istiwa' yaitu على (tinggi) dan ارتفع (naik), صعد واستقر (naik dan menetap). Ini adalah perkataan yang dinukil dari salaf dan dari ahli bahasa. Dan tidak sahih dalam istilah bahasa kecuali ini.

Tentang ketinggian Alloh telah ditetapkan dalam Al Qur'an dan As Sunnah, akal, fithrah dan ijma' salaf (pendahulunya) umat ini.

✔ Adapun dari Al Qur'an:
Pertama: Bahwasannya Alloh ada di langit. Alloh ta'ala berfirman:
أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

"Sudah merasa amankah kamu, pada Dia yang di langit" (QS Al-Mulk: 16)

Kedua: Alloh menjelaskan tentang fauqiyah (di atas seluruh makhlukNya). Alloh ta'ala berfirman:

يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ

"Mereka takut kepada Tuhan yang (berkuasa) di atas mereka" (QS An-Nahl: 50)

Ketiga: Alloh menjelaskan tentang para malaikat yang naik padaNya. Alloh ta'ala berfirman:
تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ

"Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan" (QS Al-Ma'arij: 4)

Keempat: Al Qur'an turun dari sisiNya. Allah -ta'ala- berfirman:
تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

"(Al-Qur'an ini) diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang". (QS Fussilat: 2)

Kelima: (Nabi 'Isa -alaihis salam) Naik kepadaNya. Allah -ta'ala- berfirman:
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ

"Tetapi Allah telah mengangkat Isa ke hadirat-Nya". (QS An-Nisa': 158)

Keenam: Bersemayam di atas 'Arsy. Alloh -ta'ala- berfirman:
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

"(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy".(QS Ta-Ha: 5)

Ketujuh: Naik kepadaNya. Alloh -ta'ala- berfirman:
ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

"Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik". (QS Fatir: 10)

Kedelapan: Lafadz Al-Aliyil A'la (Alloh Maha Tinggi). Alloh -ta'ala- berfirman:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi" (QS Al-A'la: 1)
Dan firmanNya:
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

"dan Dia Mahatinggi, Mahabesar".(QS Al-Baqarah: 255)

✔ Dari As-Sunnah
Ketinggian Alloh 'azza wa jalla telah ditetapkan dengan As-Sunnah dengan tiga bentuk (pendalilan):

PERTAMA: Dengan perkataan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Telah tetap dalam kitab Shahihain bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
ألَّا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أمِينُ مَنْ فِي السَماء
"Apakah kalian tidak beriman kepadaku padahal aku ini kepercayaan Dzat yang ada di langit" (HR Bukhari & Muslim)

Dan dalam kitab keduanya juga hadits Abu Hurairah bahwasannya rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، كَتَبَ فِي كِتَابِه، فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي "

"Tatkala Alloh menciptakan makhluk, Dia telah menuliskan dalam kitabNya yang berada di sisiNya di atas 'Arsy: Sesungguhnya rahmatKu mendahului kemarahanKu".

KEDUA: Dengan perbuatan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam sebagaimana yang di dalam shahih Bukhari dari hadits Ibnu Abbas dan yang selainnya dalam khutbah wada' dan beliau bersabda di akhir khutbahnya:
الا هل بلغت؟ اللهم فاشهد
"Apakah aku sudah menyampaikannya (kepada kalian)? Ya Alloh, saksikanlah" (HR Bukhari)

Dan beliau berisyarat dengan jari telunjuknya ke langit. Dan di kitab ini juga tatkala datang seorang Arab Baduwi meminta diturunkan hujan kepada mereka maka beliau mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa:
اللهمَّ اسْقِنَا
"Ya Alloh turunkanlah hujan kepada kami".

KETIGA: Dari taqrir (ketetapan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam) sebagaimana yang terdapat dalam kitab Shahih Muslim dari hadits Mu'awiyyah bin Hakam as-Sulamy bahwasannya Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bertanya (untuk menguji -pent) kepada budak perempuan: Dimana Alloh? Budak itu menjawab: Di langit. Lalu beliau -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda: "Merdekakanlah dia, karena dia seorang mukminah".

✔ Dari Fithrah yang selamat: hal itu karena hati para hamba difithrahkan untuk menetapkan sifat ketinggian bagi Alloh dan menghadapkan (hati) kepadaNya saat berdo'a. Alloh ta'ala berfirman:
ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ

"(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah" (Ar-Rum: 30)

Dan dalam kitab Shahihain dari Abu Hurairah bahwa Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:
كل مولود يولد على الفطرة
"Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithah" (HR Bukhari & Muslim)

✔ Akal. Hal itu karena sifat al-'uluw (tinggi) adalah sifat yang sempurna secara akal sedangkan rendah adalah sifat yang kurang (sempurna). Berdasarkan kesepakatan akal bahwa kesempurnaan ditetapkan untuk Alloh.

✔ Ijma Salaf. Dan telah dinukilkan (tentang ijma' salaf -pent)lebih dari satu orang seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa para Salaf mereka ijma' menetapkan sifat 'uluw (tinggi) untuk Alloh.

Dari penjelasan ini maka menjadi jelas bahwa dakwahnya ahlul hulul wal ittihad (Alloh bersatu dengan makhlukNya) menyelisihi Al Qur'an, As Sunnah, Ijma', Akal dan Fithrah.

Note:
Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh- hal. 12-16.

Rabu, 04 Maret 2020

Ittiba' Kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:

Makna Muhammad utusan Alloh yaitu bahwasannya tidak ada yang benar untuk diikuti kecuali Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Selain Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- jika diikuti dalam permasalahan yang tidak ada dalil padanya maka dia telah diikuti secara batil.
Alloh ta'ala berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin" (QS Al-A'raf: 3)

*************
PENJELASAN:
Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- adalah hamba Alloh dan utusanNya. Beliau adalah anak Abdul Mutholib bin Hasyim, dari bangsa Arab yang paling mulia nasabnya. Al Imam bin Abdul Wahhab Al Najdi berkata tentang ungkapan 'hamba Alloh dan utusanNya': "Beliau hamba maka jangan disembah, dan rasul maka jangan didustakan".

Perkataan penulis: "Tiada yang benar untuk diikuti kecuali Rasululloh" karena Alloh memerintahkan untuk mentaatinya dan mengikutinya. Alloh berfirman:

ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah" (QS Al-Hashr: 7)

Dan firmanNya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu" (QS Al-Ahzab: 21)

Syaikhul Islam berkata: "Siapa orang yang menyangka bahwa dia akan mendapat petunjuk selain dari petunjuk Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-maka baginya akan mendapatkan laknat Alloh, malaikat-malaikatNya dan manusia seluruhnya". Dan beliau berkata: "Setiap orang memiliki dua bapak dan dua hari kelahiran. Adapun bapak yang pertama adalah bapaknya secara jasmani suami ibunya. Ada pun bapaknya yang kedua adalah bapaknya secara ruhani yaitu Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam. Dan yang menunjukkan hal ini adalah ucapan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- :

إنما أنا لكم بمنزلة الوالد
"Sesungguhnya aku ini bagimu seperti seorang bapak" (HR Abu Dawud, Nasa'i, Ahmad, Ibnu Majah, Ad Darimi)

Ada pun dua hari kelahiran, maka yang pertama yaitu hari dia dilahirkan ibunya, sedangkan yang kedua disaat dia mengikuti Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Hal ini sebagaimana yang telah tetap dalam hadits Al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

كلكم تدخلون الجنة إلا من أبى، قالوا: ومن يأبى يا رسول الله؟ قال: ومن أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى

"Kalian semuanya akan masuk surga kecuali orang yang enggan". Para shahabat bertanya: Siapa orang yang enggan itu wahai Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-? Beliau menjawab: "Barang siapa mentaatiku dia masuk surga, dan barang siapa mendurhakaiku maka dia orang yang enggan" (HR Bukhari)

Ucapan penulis: "Dan selain Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- jika diikuti tanpa dalil maka dia telah mengikuti dengan kebatilan". Ini mencakup mengikuti ulama dalam permasalahan yang tidak ada dalilnya. Dan mengikuti para umara' dalam perkara yang tiada dalilnya. Serta mengikuti para hamba dalan perkara yang tidak ada dalilnya. Hal ini berdasarkan firman Alloh ta'ala:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. (QS An-Nisa': 59)

Penyertaan kata ulil amri tanpa pengulangan fi'il أطيعوا (taatilah) menunjukkan bahwa ketaatan kepada mereka tidaklah wajib kecuali dalam mentaati Alloh. Dan orang yang mengikuti mereka tanpa dalil maka sungguh ia telah bersikap melampaui batas terhadap mereka dan menjadikan mereka Thoghut-thoghut. Dan barang siapa mengikuti mereka dengan dalil maka dia tidak dianggap muqallid(hanya ikut-ikutan) sebab ittiba (mengikuti Rasul) hanyalah terealisasi dengan adanya dalil.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh-

Minggu, 01 Maret 2020

Penjelasan Lailaha ilalloh

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu’man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh-

***
Makna لا إله إلا الله yaitu لا معبود بحق الا الله (tidak ada sesembahan yang benar kecuali Alloh). Dan selain Alloh jika diibadahi maka diibadahi dengan bathil. Alloh ta’ala berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ

Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil”(QS Al Hajj: 62)
Alloh ta’ala berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah (sesembaha yang berhak disembah) selain Allah” (QS Muhammad: 19)
PENJELASAN: لا اله الا الله adalah kalimat yang terdiri atas 3 huruf ( yaitu ل ـ ا ـ ه -pent.) yang

mengandung perkara yang dikehendaki Alloh -ta’ala- dari para hambaNya dan pemurnian tauhid kepadaNya.

Kalimat ini memiliki 2 rukun:
Pertama: An-Nafi (yaitu peniadaan sesembahan selain Alloh -pent) dalam ucapan لا اله (tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar).
Kedua: Al-Itsbat (yaitu penetapan bahwa hanya Alloh sesembahan yang haq -pent) dalam ucapan الا الله (kecuali Alloh).
Dan tidaklah sempurna tauhid kecuali dengan dua rukun di atas secara bersamaan. Dengan demikian, penafi’an saja adalah peniadaan total. Jika engkau mencukupkan dengan لا إله artinya engkau tidak menetapkan adanya uluhiyah (sesembahan), tidak menetapkan Alloh maupun selainNya. Dan jika engkau mengatakan الله اله (Alloh adalah sesembahan) dan mencukupkan dengan penetapan ini maka engkau belumlah mengesakan Alloh dalam uluhiyahNya. Masuk juga bersama Alloh -dalam ucapan yang kurang ini- adanya sesembahan selainNya sebab lafadz ini tidak menunjukkan adanya pengesaan Alloh.

Dan maknanya kalimat ini: لا معبود بحق الا الله tiada sesembahan yang benar diibadahi kecuali Alloh. Di antara kesalahan fatal adalah mengartikan maknanya: “tiada sesembahan kecuali (dia adalah) Alloh” sebab perkataan ini memberikan kerancuan bahwa setiap yang diibadahi adalah Alloh, baik berupa berhala-berhala dan patung-patung dan selainnya.
Dan termasuk kesalahan juga adalah mengartikan maknanya: Tiada pencipta selain Alloh.

Dengan sebab kebodohan kebanyakan manusia dengan makna lafadz ini, mereka terjatuh pada kesyirikan dalam keadaan mereka mengucapkan. Kalimat ini menunjukkan peniadaan uluhiyah dari selain Alloh -ta’ala- dan pengesaan Alloh -ta’ala- dalam uluhiyahNya.

Syarat-syarat لا اله الا الله:
Wahhab bin Munabbih berkata -sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari-:
لكل مفتاح أسنان، و مفتاح الجنة: لا اله الا الله
Setiap kunci memiliki gerigi, dan kuncinya surga adalah: lailaha illalloh”.
Dan selainnya berkata: geriginya kunci adalah syarat-syaratnya. Jika engkau membawa kunci yang ada geriginya maka pintu akan terbuka untukmu, namun jika tidak, tidak akan terbuka untukmu.

Dan syaratnya ada 7 sebagaimana yang terangkum dalam ucapan penyair:

علمٌ ـ يقينٌ ـ و اخلاص ـ و صدقك مع # محبة و انقياد والقبول لها
“Ilmu, yakin, ikhlas, shidiq, mahabbah, inqiyad dan qabul”.

PERTAMA: Al-Ilmu (pengetahuan) yang meniadakan jahl (bodoh atau ketidaktahuan), yakni amalan yang didasarkan pada nafi dan itsbat (peniadaan dan penetapan).
Alloh ta’ala berfirman:

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“… kecuali orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini” (QS Az-Zukhruf: 86)
Dan firmanNya:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (yang patut disembah) selain Allah” (QS Muhammad: 19)

Sesungguhnya kaum kafir Quraisy mengetahui maknanya dan bahwa maksudnya adalah meniadakan sesembahan selain Alloh. Tatkala mereka diminta untuk mengucapkannya (la ilaha illalloh) mereka berkata:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

Apakah dia menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan” (QS Shad: 5)

KEDUA: Yaqin (keyakinan) yang meniadakan syak (keraguan). Alloh ta’ala berfirman:

 إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu” (QS Al-Hujurat: 15)

KETIGA: Ikhlas (pemurnian) yang meniadakan syirik. Alloh ta’ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama untukNya” (QS Al-Bayyinah: 5).
Dan firmanNya:

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi” (QS Az-Zumar: 65)

KEEMPAT: Sidqu (pembenaran) yang meniadakan kadzib (pendustaan).

KELIMA: Mahabbah (kecintaan) kepada Alloh -subhanahu wa ta’ala-. Alloh berfirman:

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya” (QS Al-Ma’idah: 54)

Dan dalam shahihain dari hadits Anas secara marfu’:

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان …..أن يكون الله ورسوله أحبّ إليه مما سواهما

Tiga hal yang ada pada diri seseorang yang dengannya ia akan mendapati manisnya iman ….(diantaranya)hendaklah Alloh dan RasulNya lebih dia cintai dari pada selainnya

KEENAM: Al-Inqiyadu (ketundukan) yang meniadakan tamarrud (penentangan). Alloh ta’ala berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (An-Nisa’: 65)

Dan firmanNya:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ

Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar, dan kami taat.” (QS An-Nur: 51)

KETUJUH: Qabul (penerimaan) yang meniadakan Radd(penolakan). Alloh ta’ala berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka” (QS Al-Ahzab: 36)
Dan kami telah meluaskan pembahasan tentang syarat-syarat yang tujuh ini dari Al Qur’an dan As Sunnah di tempat yang lain.

Tujuh syarat ini tidaklah disyaratkan bagi seorang muslim menghafalnya, tetapi cukup baginya mengamalkannya meski tidak menghafalnya.


Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu’man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh-

Rabu, 26 Februari 2020

Macam-Macam Hukum Dalam Al-Qur'an

Kajian tafsir tematik
(muqodimah)
Pertama: Hukum-Hukum Ibadah
Yaitu aturan yang mengatur hubungan hamba dengan Tuhannya.
Banyak sekali ayat-ayat yang menyebutkan tentang ini. Di antaranya
وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (110)
Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan apa-apa yang kalian usahakan dari kebaikan bagi diri kalian, tentu kalian akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kalian kerjakan. (Al-Baqoroh)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa,
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ (197)
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafas, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kalian kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal.
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ نَفَقَةٍ أَوْ نَذَرْتُمْ مِنْ نَذْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (270)
Apa saja yang kalian nafkahkan atau apa saja yang kalian nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim, tidak ada seorang pelindung pun baginya. (Al-Baqoroh)
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (89)
Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah kalian yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang kalian sengaja, maka kifarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan (jenis pertengahan) yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kifarat sumpah-sumpah kalian bila kalian bersumpah (dan kalian langgar). Dan jagalah sumpah kalian. Demikianlah Allah menerangkan kepada kalian hukum-hukum-Nya agar kalian bersyukur (kepada-Nya). (Al-Maidah)
Kedua: Hukum usroh (ahwal syakhshiyah)
Yaitu aturan berkaitan dengan keluarga dari awal sampai akhirnya.
Banyak sekali ayat-ayat yang menyebutkan tentang ini. Di antaranya
{وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (221) }
Dan janganlah kalian nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik daripada orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.
{وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (222) نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (223) }
Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, "Haid itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam kalian itu bagaimana saja kalian kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk diri kalian, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kalian kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
{لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَاءُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (226) وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (227) }
Kepada orang-orang yang meng-ila istrinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan jika mereka ber-'azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqoroh)
Juga firman Allah
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (11)
Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan]; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ (12)
Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)]. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. (An-Nisa)
Ketiga: Hukum Muamalah (Madaniyah)
Yaitu aturan berkaitan dengan aturan transaksi antar sesama manusia berupa jual beli, sewa, gadai, dan lainnya.
Banyak sekali ayat-ayat yang menyebutkan tentang ini. Di antaranya
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا (29)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian. (An-Nisaa)
{الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (275) }
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu karena mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqoroh)
Keempat: Hukum Jinayah, Kepemimpinan, Qodho’, dan Jihad
Mencakup permasalahan kriminalitas antar sesama manusia, ketentuan keputusannya, hak dan kewajiban rakyat dan pemimpinnya, serta aturan jihad dan lanjutannya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأنْثَى بِالأنْثَى فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ (178) وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (179)
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kalian dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih. Dan dalam qisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa.
إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (33) إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (34)
Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, kecuali orang-orang yang bertobat (di antara mereka) sebelum kalian dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Maidah)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً (59)
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Ra-sul-Nya, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisaa)
Insyaallah secara terpisah pada kesempatannya masing-masing.
Wallohu a’lam

Sabtu, 08 Februari 2020

Iman Kepada Malaikat dan Kitab-Kitab

Wajibnya beriman kepada malaikat dan kitab-kitab yang diturunkan Allah
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Al-Baqoroh: 285)
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah kebajikan orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, (Al-Baqoroh: 177)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلى رَسُولِهِ وَالْكِتابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالاً بَعِيداً (136)
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (An-Nisaa)
Beriman Kepada Para Malaikat yang Mulia dan Ditugasi Untuk Menulis
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ (10) كِرَامًا كَاتِبِينَ (11) يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ (12)
Padahal sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaan kalian), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaan kalian itu), mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan. (Al-Infithor)
Ibnu Katsir menyebutkan: Sesungguhnya pada kalian ada para malaikat pencatat amal perbuatan, mereka mulia-mulia. Maka janganlah kalian menghadapi mereka dengan amal-amal keburukan, karena sesungguhnya mereka mencatat semua amal perbuatan kalian.
قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الطُّنَافِسِيّ، حَدَّثَنَا وَكيع، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ومِسْعَر، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَد، عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ:: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَكْرِمُوا الكرام الكاتبين الذين لا يفارقونكم إلا عند إِحْدَى حَالَتَيْنِ: الْجَنَابَةِ وَالْغَائِطِ. فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ بِحَرَمِ حَائِطٍ أَوْ بِبَعِيرِهِ، أَوْ لِيَسْتُرْهُ أَخُوهُ".
Ibnu Abu Hatim mengatakan. telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Mis'ar, dari Alqamah ibnu Marsad, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda: Hormatilah malaikat-malaikat yang mulia pencatat amal perbuatan, mereka tidak pernah meninggalkan kalian kecuali dalam salah satu dari dua keadaan, yaitu di saat jinabah dan buang air besar. Maka apabila seseorang dari kalian mandi, hendaklah ia memakai penutup dengan tembok penghalang atau dengan tubuh hewan untanya atau hendaklah saudaranya yang menutupinya.
Allah berfirman
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Surat Qof)
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (11)
Bagi manusia ada malaikal-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali lak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar-Ra’d)
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ وَقَرِينُهُ مِنَ الْمَلَائِكَةِ". قَالُوا: وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: "وَإِيَّايَ، وَلَكِنْ أَعَانَنِي اللَّهُ عَلَيْهِ  فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ".
Dari Abdullah yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda: "Tiada seorang pun di antara kalian melainkan telah ditugaskan untuk selalu menyertainya dari jin dan dari malaikat.” Mereka bertanya, "Juga engkau, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, "Juga diriku ini, tetapi Allah menolongku terhadap gangguannya. Karena itu, tiadalah menganjurkan kepadaku kecuali hanya kebaikan belaka.” Hadis diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim
Firman Allah
أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ (80)
Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar) dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka. (Az-Zukhruf)
هَذَا كِتَابُنَا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (29)
"Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh menyalin apa yang kalian kerjakan.” (Al-Jasiyah)
Yakni sesungguhnya kami telah memerintahkan kepada para malaikat pencatat amal perbuatan untuk menyalin semua amal perbuatan kalian.
Ibnu Kasir mengatakan: Ibnu Abbas dan lain-lainnya mengatakan bahwa para malaikat mencatat amal perbuatan hamba-hamba Allah, kemudian para malaikat itu membawa naik ke langit catatan-catatan tersebut. Maka mereka bertemu dengan para malaikat lainnya yang berada di Diwanul A'mal, lalu mereka mencocokkan dengan apa yang telah di tampakkan bagi para malaikat Diwanul A'mal dari lauh Mahfuz di setiap malam Lailatul Qadar, yang mana hal tersebut termasuk di antara yang telah di tetapkan oleh Allah di zaman azali terhadap hamba-hamba-Nya sebelum Dia menciptakan mereka. Maka tidak ada penambahan dan pengurangan padanya barang satu huruf pun. Kemudian Ibnu Abbas r.a. membaca firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan. (Al-Jatsiyah: 29)
dari Abu Hurairah, dari Nabi beliau bersabda:
" يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ وَفِي صَلَاةِ الْعَصْرِ، فَيَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ -وَهُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ -كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: أَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَتَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ"
Malaikat malam hari dan malaikat siang hari silih berganti kepada kalian, dan mereka bersua di dalam salat Subuh dan salat Asar, kemudian para malaikat yang bertugas pada kalian di malam hari naik (ke langit), lalu Tuhan mereka Yang lebih mengetahui menanyai mereka tentang kalian, "Bagaimanakah keadaan hamba-hamba-Ku saat kalian tinggalkan?” Mereka menjawab, "Kami datangi mereka sedang mengerjakan salat, dan kami tinggalkan mereka sedang mengerjakan salat.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Beriman Tentang Malaikat Maut
Satu malaikat bertugas mencabut nyawa, sedangkan banyak malaikat lain yang membantu dalam urusan nyawa tersebut.
{وَقَالُوا أَئِذَا ضَلَلْنَا فِي الأرْضِ أَئِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ بَلْ هُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ كَافِرُونَ (10) قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (11) }
Dan mereka berkata, "Apakah bila kami telah lenyap (hancur) di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru. Bahkan (sebenarnya) mereka ingkar akan menemui Tuhannya. Katakanlah, "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan. (As-Sajdah)
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ (61)
Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepada kalian malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya. (Al-An’am)
Para malaikat memiliki tugas masing-masing yang banyak
Mereka patuh dan kuat. Allah berfirman
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ (26) لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ (27) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يَشْفَعُونَ إِلا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ (28) وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَهٌ مِنْ دُونِهِ فَذَلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ كَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ (29)
Dan mereka berkata, "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mempunyai anak.” Mahasuci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat, melainkan kepada orang yang diridai Allah; dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barang siapa di antara mereka mengatakan, "Sesungguhnya aku adalah tuhan selain dari Allah, " maka ia Kami beri balasan dengan Jahanam, demikianlah Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. (Al-Anbiya)
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (49) يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (50)
Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (Juga) para malaikat, sedangkan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). (An-Nahl)
Tiga malaikat yang utama adalah Jibril, Mikail, dan Isrofil alaihimussalam. Masing-masing ditugasi urusan kehidupan.
Beriman kepada kitab-kitab Allah semuanya, mengimani yang disebutkan Allah namanya (Al-Quran, Taurat, Injil, dan Zabur), dan mengimani Al-quran dengan pengakuan dan mengikutinya.
الم (1) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ (2) نزلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزلَ التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ (3) مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنزلَ الْفُرْقَانَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ (4)
Alif Lam Mim. Allah, tida kada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri dan mengurus makhlukNya. Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat serta Injil sebelum (Al-Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa). (Ali Imran)
{قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (136) }
Katakanlah (hai orang-orang mukmin), "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak cucu-nya; dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (Al-Baqoroh)
رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِكُمْ إِنْ يَشَأْ يَرْحَمْكُمْ أَوْ إِنْ يَشَأْ يُعَذِّبْكُمْ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ وَكِيلا (54) وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا (55)
Tuhan kalian telah mengetahui tentang kalian. Dia akan memberi rahmat kepada kalian jika Dia menghendaki, dan Dia akan mengazab kalian jika Dia menghendaki. Dan kami tidaklah mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka. Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Dawud. (Al-Isro)
Wallohu a’lam

Rabu, 05 Februari 2020

Sikap kepada para sahabat Nabi radhiyallahu anhum

Oleh: Ust Sunardi Abu Yahya -hafidzahulloh-
Menjaga hati dan lisan terhadap para sahabat Nabi shalallahu alaihi wasalam
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (8) وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالإيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (9) وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (10)
(Juga) bagi para fuqara Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan /anganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr)
قَالَ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أحدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ"
Imam Muslim di dalam kitab sahihnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah. dari Al-A'masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pernah bersabda: Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku, demi Tuhan yang jiwaku berada ditangan-Nya, seandainya seseorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Bukit Uhud, tidaklah hal itu dapat menyamai satu mud seseorang dari mereka dan tidak pula separohnya.

Sebagian ayat yang menyebutkan keutamaan para sahabat Nabi dalam Al-quran
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29)
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat, lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (Al-Fath)
وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ (62) وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (63)
Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi Pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walau­pun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Al-Anfal)
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ (20) يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ (21) خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (22)
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga; mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allah-lahpahala yang besar. (At-Taubah)
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (74)
Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia. (Al-Anfal)
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (100)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dari Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah rida kepada mereka dan menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya mereka kekal di dalammnya selama-lamanya, itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah)
Tingkatan keutamaan antar sahabat Nabi
لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (10)
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid)
Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda tentang Hatib bin Abu Balta’ah
"إِنَّهُ قَدْ شَهِدَ بَدْرًا، مَا يُدْرِيكَ لَعَلّ اللَّهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ".
Sesungguhnya dia telah ikut dalam Perang Badar, dan tahukah kamu, barangkali Allah menengok ahli Badar, lalu berfirman kepada mereka, "Berbuatlah menurut apa yang kalian kehendaki, sesungguhnya Aku telah memberikan ampunan bagimu." (riwayat Ahmad, Bukhari, dan lainnya)
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا (18) وَمَغَانِمَ كَثِيرَةً يَأْخُذُونَهَا وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (19)
Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya), serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Al-Fath)
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يُونُسُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ. عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: "لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ مِمَّنْ بَايَعَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Al-Lais, dari Abuz Zubair, dari Jabir dari Rasulullah yang telah bersabda: Tidak akan masuk neraka orang yang telah mengucapkan janji setia di bawah pohon itu.
Wallohu a’lam