“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33) * Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".(QS Yusuf: 108)

Cari Blog Ini

Rabu, 04 Maret 2020

Ittiba' Kepada Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-

Penulis -hafidzahulloh ta'ala- berkata:

Makna Muhammad utusan Alloh yaitu bahwasannya tidak ada yang benar untuk diikuti kecuali Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Selain Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- jika diikuti dalam permasalahan yang tidak ada dalil padanya maka dia telah diikuti secara batil.
Alloh ta'ala berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ
"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin" (QS Al-A'raf: 3)

*************
PENJELASAN:
Muhammad -shollallohu 'alaihi wa sallam- adalah hamba Alloh dan utusanNya. Beliau adalah anak Abdul Mutholib bin Hasyim, dari bangsa Arab yang paling mulia nasabnya. Al Imam bin Abdul Wahhab Al Najdi berkata tentang ungkapan 'hamba Alloh dan utusanNya': "Beliau hamba maka jangan disembah, dan rasul maka jangan didustakan".

Perkataan penulis: "Tiada yang benar untuk diikuti kecuali Rasululloh" karena Alloh memerintahkan untuk mentaatinya dan mengikutinya. Alloh berfirman:

ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah" (QS Al-Hashr: 7)

Dan firmanNya:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu" (QS Al-Ahzab: 21)

Syaikhul Islam berkata: "Siapa orang yang menyangka bahwa dia akan mendapat petunjuk selain dari petunjuk Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-maka baginya akan mendapatkan laknat Alloh, malaikat-malaikatNya dan manusia seluruhnya". Dan beliau berkata: "Setiap orang memiliki dua bapak dan dua hari kelahiran. Adapun bapak yang pertama adalah bapaknya secara jasmani suami ibunya. Ada pun bapaknya yang kedua adalah bapaknya secara ruhani yaitu Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam. Dan yang menunjukkan hal ini adalah ucapan Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- :

إنما أنا لكم بمنزلة الوالد
"Sesungguhnya aku ini bagimu seperti seorang bapak" (HR Abu Dawud, Nasa'i, Ahmad, Ibnu Majah, Ad Darimi)

Ada pun dua hari kelahiran, maka yang pertama yaitu hari dia dilahirkan ibunya, sedangkan yang kedua disaat dia mengikuti Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam-. Hal ini sebagaimana yang telah tetap dalam hadits Al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi -shollallohu 'alaihi wa sallam- bersabda:

كلكم تدخلون الجنة إلا من أبى، قالوا: ومن يأبى يا رسول الله؟ قال: ومن أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى

"Kalian semuanya akan masuk surga kecuali orang yang enggan". Para shahabat bertanya: Siapa orang yang enggan itu wahai Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam-? Beliau menjawab: "Barang siapa mentaatiku dia masuk surga, dan barang siapa mendurhakaiku maka dia orang yang enggan" (HR Bukhari)

Ucapan penulis: "Dan selain Rasululloh -shollallohu 'alaihi wa sallam- jika diikuti tanpa dalil maka dia telah mengikuti dengan kebatilan". Ini mencakup mengikuti ulama dalam permasalahan yang tidak ada dalilnya. Dan mengikuti para umara' dalam perkara yang tiada dalilnya. Serta mengikuti para hamba dalan perkara yang tidak ada dalilnya. Hal ini berdasarkan firman Alloh ta'ala:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. (QS An-Nisa': 59)

Penyertaan kata ulil amri tanpa pengulangan fi'il أطيعوا (taatilah) menunjukkan bahwa ketaatan kepada mereka tidaklah wajib kecuali dalam mentaati Alloh. Dan orang yang mengikuti mereka tanpa dalil maka sungguh ia telah bersikap melampaui batas terhadap mereka dan menjadikan mereka Thoghut-thoghut. Dan barang siapa mengikuti mereka dengan dalil maka dia tidak dianggap muqallid(hanya ikut-ikutan) sebab ittiba (mengikuti Rasul) hanyalah terealisasi dengan adanya dalil.

Diterjemahkan dari Kitab Tuhfatul Murid syarah Qoulul Mufid oleh Syaikh Nu'man bin Abdul Karim Al Watr -hafidzahulloh-

0 komentar:

Posting Komentar